Inspirational, Arif Yudhi dan Ginggi Syarif Hasyim, Sang Penggerak Desa Jatisura

Inspirational, Arif Yudhi dan Ginggi Syarif Hasyim, Sang Penggerak Desa Jatisura

“Keluarga kami, keluarga pembuat genteng, tapi kami ingin anak anak kami belajar hal yang baru. Hal yang tidak bisa kami berikan pada generasi setelah kami.” Ujar Arif Yudhi Rahman, pada suatu hari yang lumayan panas seperti biasa di Desa Jatisura, kecamatan Jatiwangi. Ya. Menjelang hadirnya festival film Jatisura Village. Pria yang disapa Kang Arief Yudhi ini bahu membahu dengan warga desa Jati Sura, melalui Jatiwangi Art Factory (JAF) miliknya, memperlihatkan desa yang punya wibawa. Pengertian wibawa ini, adalah harga diri.

Sebelum masuk ke pemberdayaan ekonomi. Orang orang harus bangkit dulu harga dirinya. Karena, sebagaimana ungkapan pak Akuwu (kades) Jati Sura, Ginggi Syarif Hasyim, wilayah Jatiwangi sering di curigai oleh wilayah kota (seperti Majalengka atau Cirebon) sebagai wilayah pinggiran yang menyuplai tenaga kerja di kota itu, termasuk memasok kriminalitasnya. Pandangan miring ini tidak terelakan. Karena itulah cara kota memandang desa akhir akhir ini. Yakni menjadi sumber masalah.

Yang tidak diketahui orang kota, terlepas dari sentimentilitas pada hubungan pasokan makanan dari desa ke kota, adalah orang orang desa tidak sebodoh yang mereka pikirkan. Generasi petani yang menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi semenjak tahun 70-80 kini telah memasuki ‘masa panen’. Dan panen yang tidak mungkin puso.  Di antara mereka dari generasi yang tumbuh di Jatiwangi adalah Arif Yudhi dan Ginggi. Pendidikan tinggi menghasilkan bukti yang tidak sedikit pada desa. Salah satu di antaranaya adalah upaya advokasi dan workshop pada penduduk desa untuk lebih dewasa lebih dari orang kota menyikapi terpaan budaya.

“Segala sesuatunya di sini, ibarat desa mengepung kota. Kita orang desa harus bisa mengolah informasi sendiri” Tambah Ginggi. Dan Arif Yudhi mengamininya. Pria yang bisa Anda temui di  jl. Makmur no 604 desa jatisura jatiwangi, majalengka ini, telah memberikan orang desa Jati  Sura akses pada keajaiban dunia informasi yang di namakan festival. Orang orang desa ini mengikuti puluhan workshop dari wilayah foto, video, seni, yang berkolaborasi dengan seniman Internasional. Seperti Village Video Festival 2011, Gaungnya jelas memekik dan membangunkan kota. Para politisi mulai gatal meja kursinya, dari camat, bupati, dan walikota, pihak aparat keamanan, mau tidak mau berkepentingan dengan keriuhan. Barangkali dalam pikir mereka ini suara pemilu, atau ini huru hara apa bukan?   Tapi seketika datang, tentu saja akhirnya bakal kena todong, mana pemberdayaan rakyat versi politisi hahaha.

Menciptakan Anak Muda Berprestasi

Sebut saja di antara mereka berdua terdapat anak anak muda yang ikut meramaikan gemilangnya denyut desa. Anak muda ini penampilannya garang, sorot matanya tajam, tapi mereka hebat dan mandiri. Salah satunya adalah Tedi Nurmanto. Seorang pria berkumis tipis, yang menjadi pemuda pelopor terbaik Se Jawa Barat. Anak ini bawaannya ceria, tapi bila serius ada kesan galak. Dan tentu saja, dengan arahan segala jenis festival yang di bawakan Arif Yudhi dan Ginggi, dirinya bersinar menemukan tempat. Salah satunya adalah Band desa yang memiliki ragam nama, dari People Clay, hingga Genteng Genteng. Mereka berkonser di festival berbagai tempat beken. Dan inilah salah satu contohnya :

  • Genteng – genteng ensemble, Java jazz jakarta 2009, indonesia.
  • Genteng – genteng ensemble, Otofest bandung 2009, indonesia
  • Genteng – genteng ensemble, Bamboo nusantara festival  3 bandung 2009, indonesia.
  • People clay, Taman budaya bandung “ pesta tanah “2009, indonesia.
  • People clay, Bienal ceramic #1 jakarta 2009, indonesia.
  • People clay, Gedung merdeka bandung 2009, indonesia.
  • People clay, indegenious appreance culture festival bandung 2010, indonesia.
  • Hanyaterra,  ruang putih tikalika gallery bandung 2009, indonesia.
  • Hanyaterra,GBK majalengja 2009, indonesia.
  • Pemuda inisiatif, FOI singapore 2010, singapore

Tentu saja, membangun kepercayaan diri bisa sampai ke titik semacam itu. Pada akhirnya akan melahirkan pula generasi nan kreatif, dari orang orang desa Jatisura sendiri. Sesuatu yang barangkali begitu di idamkan oleh banyak kepala daerah. Yakni rakyat yang dengan sendirinya berdaya. Benarkah dengan sendirinya?

Semua Berawal dari Misi dan Dapur Umum

Bagi orang orang ini visi belakangan, karena visi bisa dipinjamkan dari mereka yang datang memberikan workshop.  Yang terpenting adalah niat. Artinya misi. Harus ada gerak dulu. Harus ada kumpul dulu. Bagaimana orang orang bisa berkumpul. Ginggi memberikan resepnya yakni membangun dapur umum. Dapur umum tempat orang orang desa bisa kumpul sambil makan. Di mana orang bisa di mobilisasi bagaikan di masa perang.

Apakah saat ini ‘masa perang?’ dalam sudut pandang manapun, Anda bisa menjawabnya ya. Ini sedang masa perang. Dan yang menjadi musuhnya adalah ketidakberdayaan. Ginggi dan Arief Yudhi, menolak ketidakberdayaan, dan menolak tunduk pada kekuasaan yang melemahkan. “Sudah jadi darahnya orang Jatiwangi menolak dikuasai.” Tutup Ginggi siang itu.

 

foto: ruangfoto.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Kabar UKM

Website:
Indahnya berbagi....

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Copyright © 2009 - 2013 Kabar UKM. All rights reserved.